Kamis, 12 Desember 2013

Cara Membuat Bubur Kertas dengan Aneka Kreasi



Sebagaimana diketahui, kerusakan lingkungan terus saja terjadi, bahkan dengan derajat yang makin serius dari waktu ke waktu. Dampak buruk kerusakan lingkungan makin mengancam keberlangsungan di muka bumi. Beragam bencana alam yang datang silih berganti, aneka wabah penyakit, juga perubahan iklim adalah bukti nyata betapa kerusakan lingkungan yang terjadi telah membuat bumi ini tidak senyaman dahulu untuk dihuni.
Sampah dan penebangan hutan merupakan dua faktor penting di antara sekian banyak faktor penyebab kerusakan lingkungan. Oleh karena itu, pengelolaan sampah yang bijak dan pelestarian hutan dapat menjadi bagian dari upaya untuk menjaga kelestarian lingkungan. Dan, mengolah sampah kertas merupakan salah satu cara yang dapat ditempuh untuk mengelola sampah dan mengurangi penebangan hutan.
Sampah kertas dan pelestarian hutan sepintas tidak memiliki korelasi yang signifikan. Akan tetapi, kedua hal ini sesungguhnya terkait sangat erat. Bahan baku pembuatan kertas adalah kayu jenis tertentu. Untuk mendapatkan bahan baku ini, pohon-pohon, termasuk pohon-pohon di hutan pun ditebang. Maka, makin besar produksi kertas, akan makin banyak kayu yang ditebang.
Itu artinya, jumlah pohon yang ada akan makin sedikit. Padahal, pepohonan memiliki manfaat yang luar biasa besar bagi kehidupan di bumi. Agar hutan tidak makin habis dan pohon-pohon makin sedikit, maka penggunaan kertas sebisa mungkin harus dibatasi.
Cara untuk menghemat pemakaian kertas, antara lain menggunakan kertas bekas yang masih dapat dipakai, mencetak dokumen secara bolak-balik, menggunakan pulsa elektrik, mendesain kertas undangan berukuran kecil, dan menggunakan sapu tangan sebagai pengganti tisu.
Satu lagi cara penting yang dapat ditempuh untuk menghemat penggunaan kertas adalah mendaur ulang sampah kertas. Di sinilah terlihat jelas kaitan antara pengelolaan sampah kertas yang bijak dan upaya pelestarian hutan. Berbicara tentang mendaur ulang sampah kertas, membuat bubur kertas menjadi bagian tidak terpisahkan dari proses ini.

Cara Buat Bubur Kertas

Proses pembuatan bubur kertas dapat dilakukan dengan langkah-langkah berikut ini.
  • Siapkan kertas bekas, misalnya kertas tisu atau kertas koran. Sobek atau gunting menjadi potongan-potongan kecil (lembut).
  • Masukkan potongan kertas ke dalam baskom atau ember plastik. Kemudian, siram dengan air hangat.
  • Masukkan 1 sendok teh garam. Garam bermanfaat untuk menghindarkan kertas menjadi busuk.
  • Potongan kertas yang telah direndam dan diberi garam ini didiamkan selama 1–2 hari hingga menjadi lunak.
  • Dua hari kemudian atau setelah kertas menjadi lunak dan hancur, saring menggunakan kain (dapat dimenggunakan kain lap yang pori-porinya besar). Keempat tepi kain disatukan dan plintir. Hingga air akan terpisah dari ampasnya.
  • Buang air perasan kertas. Kemudian, masukkan kembali potongan kertas-kertas yang sudah diperas airnya ke dalam wadah dan remas-remas hingga hancur. Tambahkan  sedikit air ketika meremasnya.
  • Buat larutan pasta dengan mencampur 2 sendok makan tepung kanji dengan air secukupnya. Apabila pasta terasa terlalu cair, penggunaan tepung kanji dapat ditambah.
  • Campur adonan kertas dengan larutan pasta. Remas-remas hingga tercampur merata dan didapat adonan bubur kertas yang liat sehingga mudah untuk dibentuk.

Aneka Kreasi Dari Bubur Kertas

Cara buat bubur kertas dapat dikreasikan menjadi aneka hiasan cantik. Berikut adalah beberapa contoh kreasi cantik berbahan bubur kertas.

Gantungan kunci

  • Siapkan cetakan kue, atau buat cetakan sendiri dengan bentuk sesuai dengan keinginan.
  • Cetak bubur kertas ke dalam cetakan.
  • Lepaskan bubur kertas dari cetakan, lalu beri gantungan. Gantungan dapat berupa tali atau kawat halus.
  • Angin-anginkan gantungan kunci dari bubur kertas hingga kering. Hindari menjemur gantungan kunci di bawah sinar matahari langsung karena bubur kertas dapat retak-retak.
  • Setelah kering, amplaslah agar permukaannya halus.
  • Agar gantungan kunci makin cantik, warnailah dengan cat minyak, cat semprot, atau varnish.

Celengan

  • Siapkan toples plastik bekas. Beri lubang di atasnya, yang nantinya digunakan untuk memasukkan uang ke dalam celengan.
  • Tempelkan bubur kertas sedikit demi sedikit ke toples, hingga seluruh permukaan toples tertutup bubur kertas secara merata, kecuali lubang di bagian atas.
  • Agar lubang untuk memasukkan uang tidak tertutup bubur kertas, lubang ini dapat ditutup dengan kertas karton selama proses menempelkan bubur kertas ke permukaan toples dilakukan.
  • Buatlah aneka bentuk untuk menghias celengan agar makin cantik. Dapat bentuk buah, daun, bintang, atau bulatan-bulatan. Selanjutnya, bentuk-bentuk yang telah dibuat ini ditempelkan pada toples yang telah dilapisi bubur kertas.
  • Angin-anginkan celengan bubur kertas hingga kering. Setelah kering, celengan diwarnai sesuai dengan keinginan agar lebih cantik.

Mobil-mobilan

  • Siapkan mobil-mobilan yang telah rusak.
  • Buka penutup bagian bawahnya.
  • Masukkan bubur kertas ke dalam mobil-mobilan dan tekan-tekan hingga padat.
  • Lepaskan mobil-mobilan bubur kertas dari cetakannya.
  • Tambahkan bentuk bulatan sebagai roda.
  • Anginkan-anginkan hingga keriang.
  • Setelah kering, warnai hingga mobil-mobilan bubur kertas tampail cantik.

Balon

  • Tiup balon hingga besarnya sesuai dengan yang diinginkan.
  • Lapisi balon dengan bubur kertas tipis-tipis, lalu angin-anginkan hingga kering.
  • Setelah kering, kembali lapisi dengan bubur kertas sehingga lebih tebal dan angin-anginkan lagi hingga kering.
  • Setelah kering, pecahkan balon dengan menusuknya menggunakan jarum.
  • Warnai agar balon menjadi lebih cantik.
  • Balon dari bubur keras ini selanjutnya dapat dikreasikan menjadi hiasan apa pun sesuai dengan selera
Bubur kertas dapat dikreasikan menjadi aneka hiasan cantik, dengan cara yang amat mudah, yaitu tinggal mencetaknya pada cetakan yang diinginkan dan menambahkan berbagai hiasan, lalu diwarnai. Maka, hiasan cantik pun telah jadi.
Bubur kertas juga dapat dicetak menjadi kertas daur ulang. Sementara itu, kertas daur ulang sendiri dapat dimanfaatkan untuk aneka keperluan, seperti membuat aneka kerajinan tangan, undangan, atau kotak kado.
Mengolah sampah kertas menjadi bubur kertas, kemudian menggunakannya untuk membuat beragam hiasan cantik merupakan cara mudah dan kreatif untuk mengurangi pembuangan sampah, menghemat penggunaan kertas, dan mengurangi penebangan hutan yang kayunya akan digunakan sebagai bahan baku pembuatan kertas. Muara dari semua ini penyelamatan lingkungan dari kerusakan yang lebih parah.
Mengolah sampah kertas menjadi bubur keras, lalu mengkreasikannya menjadi aneka barang kerajinan juga menjadi cara yang murah untuk memiliki pernak-pernik hiasan rumah. Hingga rumah atau kamar Anda dapat tampil lebih cantik tanpa harus mengeluarkan banyak uang untuk membelinya.
Sebab, Anda membuat sendiri hiasan-hiasan cantik tersebut. Anda pun dapat mengasah kreativitas buah hati Anda dengan mengajarkan mereka cara buat bubur kertas dan membuat aneka hiasan berbahan bubur kertas. Dengan begitu buah hati Anda akan bangga karena telah ikut melestarikan lingkungan dan juga memiliki karya yang cantik dan akan selalu di kenang saat ia dewasa. Wallahu a’lam..
Sumber : http://ormitamedia.com

Cara Membuat Daur Ulang Kertas



Peluang usaha membuat Kertas Daur Ulang sangat menjanjikan. Koran bekas, Kertas bekas bisa jadi sumber penghasilan jika kita jeli melihatnya. Selama ini kertas-kertas tersebut kita anggap benda-benda yang tidak bernilai biasa kita buang begitu aja atau di jual ke tukang barang bekas dengan imbalan yang tidak seberapa kan? Tahukan anda dari kertas bekas atau kertas Koran bekas, kardus bekas tersebut ternyata menyimpan potensi peluang usaha, membuat kertas daur ulang.
Intinya bisa mempunyai nilai tambah bila diolah dengan benar dan bernilai ekonomi tinggi dapat menjadi sebuah peluang bisnis yang menjanjikan dengan pemanfaatan limbah kertas kita secara tidak langsung turut mendukung program kampanye “GO GREEN” yang saat ini sedang gencar digalakkan oleh berbagai kalangan. Dengan membuat produk dari daur ulang kertas sehingga dapat mengurangi sampah yang dibuang ke lingkungan.
Alat Daur Ulang Kertas : membuat Kertas Daur Ulang tidaklah sesulit yang kita bayangkan, alat dan bahan bisa diperoleh disekitar kita. Antara lain : Ember 2 buah (1 untuk merendam kertas, 1 untuk menampung hasil bubur kertas besar kecil ember/bak tergantung besar kecilnya kertas yang mau dibuat), blender, cetakan kertas dari 2 bingkai kayu,, ukuran kertas sesuai bingkai, sepon, kain, plastic.
Bahan Kertas Daur Ulang : kertas bekas/Koran bekas/kardus bekas, air, pewarna, daun kering, bunga-bunga kering , rambut jagung (untuk menambah nilai artistik kertas daur ulang).
Cara membuat Kertas Daur Ulang atau proses pembuatan kertas daur ulang sebagai berikut :
Kertas bekas dihancurkan dulu dengan cara dipotong-potong kecil atau dirobek-robek lalu direndam air biasa biarkan 1 atau 2 malam, jangan lupa mengganti air bekas rendaman agar kertas tidak bau, selain itu bila yang kita pakai kertas Koran bekas semakin sering kita buang airnya warna tinta di Koran bisa hilang dan larut. Setelah Koran direndam beberapa malam maka kertas akan semakin lunak. Lalu kita tiriskan lalu diblender perbandingan antara kertas Koran dan air 1: 10 setelah kertas jadi bubur dituang di bak atau ember usahakan ember yang agak besar agar cetakan kertas bisa masuk semua kedalam ember.
Bila mau diberi warna bisa tambahkan pewarna kita biarkan 1 atau 2 jam agar warna bisa meresap ke bubur kertas tsb. Lalu mulai kita cetak sebelum dicetak bila ingin dimasukkan pernak-pernik untuk tekstur kertas bisa tambahkan kulit bawang, rambut jangung, daun buga kering, dll, kedalam air bubur kertas tersebut.
Masukkan cetakan dalam bubur kertas setelah bubur kertas menempel pada cetakan kertas isap dengan memakai sepon air yang tersisa lalu bisa dihiasi dengan daun dan bunga bila kita bentuk yang beraturan. Lalu cetakan kita balik dan kertas di tempelkan di atas kain yang telah disediakan, lalu kita jemur dengan sinar matahari sampai kering. Membuat kertas daur ulang sangat tergantung pada cuaca karena cara pengeringan memakai matahari tidak bisa dengan cara di oven.
Biasanya orang yang memproduksi kertas daur ulang akan membuat sebanyak-banyaknya pada saat musim panas/kemarau dan mempunyai persediaan stok kertas hingga bisa mencukupi saat musim hujan tiba dimana pada saat itu hasil kertas tidak bisa maksimal padahal permintaan kertas daur uang banyak.
Hasil daur ulang kertas kering bisa kita jual ke percetakan biasa untuk membuat undangan pernikahan karena ada orang suka dengan membuat sovenir pernikahan yang memakai bahan natural.

Meraup Untung dari Tumpukan Limbah Kertas


MedanBisnis - Medan. Kertas bekas pakai biasanya, cuma menjadi limbah dan sering dianggap tidak memberikan manfaat selain sebagi pembungkus semata. Tidak sedikit pula orang yang membakarnya karena dianggap tidak memiliki nilai ekonomis.
Namun tidak di tangan Gindo Gultom, kertas bekas bisa menghasilkan jutaan rupiah setiap bulan. "Kebanyakan kertas-ini terbuang. Jadi kepikiran bagiamana agar bisa dimanfaatkan dan ada niat untuk membersihkan lingkungan," kata pemilik usaha kertas CV ELEKK, kepada MedanBisnis di Komplek Griya Marelan, Blok M, baru-baru ini.

Dia menuturkan mengumpulkan kertas bekas tersebut, awalnya hanya untuk menjaga kebersihan lingkungan. Bersama dengan anaknya Anju Marudut Gultom dengan bermodalkan becak dayung, mengumpulkan limbah-limbah kertas dari depan toko grosir dan bengkel di Jalan Titi Papan.

Kemudian limbah tersebut dipilah-pilah dan kemudian dijual ke pengumpul kecil. Usaha tanpa modal tersebut dimulainya hanya bermodalkan becak dayung. Setiap sore, keduanya selalu giat membersihknnya setiap sore. Limbah ini dipasarkannya ke pengumpul kecil, dengan harga seribuan per kilo.

Cercaan dan ejekan silih berganti diterimanya dan itu tidak digubris. Dari niat mulianya ini, mereka mampu meraup rupiah Rp 1 hingga Rp 2 jutaan per bulan. Hal ini berjalan selama dua bulan. Hingga akhirnya dia menemukan truk pengangkut limbah kertas, dan mengikutinya hingga ke pengumpul tunggal kertas limbah. Disini dia belajar secara otodidak bagaimana mensortir kertas bekas pakai itu.

Dari situ dia tahu ternyata ada delapan kategori kertas bekas pakai di tingkat pengumpul besar dan hanya empat kategori saja pada pengumpul kecil. Dengan perbedaan klasifikasi ini, harga pun berbeda. Misalnya saja untuk kategori polos per kilo mencapai Rp 2.800, sedangkan kategori paling rendah, dipatok sekira Rp 500 per kg. Harga berbeda jika dipasarkan melalui agen-agen kecil.

Bagi Gindo yang berprofesi sebagai guru di SMA, ada fikiran untuk menghasilkan rupiah, dengan cara mendaur ulang kertas - kertas bekas yang sudah dikenalnya selama beberapa tahun terakhir.

Sayangnya, proses daur ulang kertas belum populer di Medan, tidak seperti di Semarang. Berjalan tiga tahun, kegiatan yang dilakoni mantan guru transmigrasi SMA 1 Jaya Pura ini, semakin banyak yang mengikutinya.

Limbah kertas, yang awalnya didapatkan secara gratis, kini harus berebut dengan pengumpul kertas yang lain, bahkan untuk memperolehnya juga harus membelinya. Sasarannya tidak lagi pinggir jalan, toko grosir, bengkel melainkan percetakan, sekolah dan kantor.

Meski demikian, tidak membuatanya merasa tersaingi. Melainkan bangga, karena upaya untuk menjaga kebersihan lingkungan ternyata diikuti pihak lain. Bahkan dia memprediksi prospek dari bisnis kertas bekas ini akan selalu cerah, sepanjang masih ada kertas. Sejauh ini, Gindo mampu meraup omzet hingga Rp 4 juta perbulannya. Jumlah ini jauh lebih besar dari penghasilannya sebagai seorang guru.

"Peluangnya akan selalu ada, selama masih ada kertas. Hanya saja, sejak dua tahun terakhir tidak ada kenaikan harga, karena kertas ini dianggap sebagai limbah yang tidak ramah lingkungan," ujarnya seraya menambahkan, dia siap untuk berbagi ilmu dengan siapapun yang mau belajar tentang limbah kertas ini.

Guru kewirausahaan ini menyebutkan sebenarnya di Medan ini banyak peluang bisnis yang menjanjikan. Namun ini harus ditekuni tanpa gengsi dan juga harus sabar.


Mengubah Sisa Potongan Kayu menjadi Furniture Antik



         Perkembangan dalam pengerjaan serta pengolahan kayu berjalan sangat pesat, terlebih karena Indonesia memiliki kekayaan yang luar biasa terhadap aneka jenis kayu. Mengenal material kayu dengan tujuan digunakan dan dimanfaatkan, merupakan hal yang penting, baik bagi pengusaha yang bergerak dalam bidang industri kayu, maupun pemakai kayu lainnya  agar dalam pemanfaatannya kayu dapat digunakan secara benar dan maksimal sehingga tidak terjadi pemborosan penggunaan kayu dan pada akhirnya dapat mengurangi dampak buruknya baik pada alam maupun bagi manusia yang menggunakannya. (Dumanauw,1990 : 7)
     Dalam pemanfaatannya, kayu banyak digunakan sebagai material utama pembuatan furniture serta sebagai bagian dari pondasi bangunan. Dalam pembuatan furniture misalnya, kayu tersebut di olah menjadi potongan-potongan kayu yang disesuaikan dengan bentuk furniture yang akan di buat. Sisa dari potongan kayu tersebut biasanya berupa potongan kayu berukuran sedang dan kecil yang pada akhirnya hanya di anggap sebagai limbah tidak bermanfaat dan di buang begitu saja, kemudian berujung menjadi kayu bakar dan asapnya akan menghasilkan CO2 yang dapat mencemari lingkungan.
     Setelah proses pemanfaatan kayu tersebut selesai, kemudian muncul masalah lain baik dimasyarakatnya sendiri maupun pemanfaatannya kemudian di interior. Masalah yang muncul di masyarakat adalah mengenai kurangnya pengetahuan masyarakat tentang bagaimana memanfaatkan limbah potongan kayu agar tidak terbuang sia-sia dan dapat menjadi ide kreatif yang juga bermanfaat. Sedangkan di interior sendiri, masalah yang timbul adalah bagaimana limbah potongan kayu tersebut dapat dimanfaatkan secara tepat menjadi bagian dari furniture maupun elemen pembentuk ruang, sehingga selain bermanfaat dari segi fungsi juga dapat menambah keindahan interior itu sendiri.
      Beberapa jenis kayu yang cukup dikenal di Indonesia antara lain, kayu jati (bau zat penyamak), kayu ulin (bau keasam-asaman), kayu merbau, kayu bintangur dan mahoni (agak berat dan agak keras), kayu pinus (agak berat, lunak), kayu sonokeling dan sonokembang (mempunyai nilai dekoratif), kayu sengon (daya tahan bakar kecil). Dari sekian banyak jenis kayu tersebut hanya beberapa kayu yang banyak dikenal dan dimanfaatkan sebagai material pembuatan furniture oleh masyarakat, antara lain kayu jati, kayu sonokeling, dan kayu mahoni. (Kasmudjo, 2010 : 55)
      Keawetan kayu berhubungan erat dengan pemakaiannya. Kayu dikatakan awet jika memiliki umur pakai lama. Kayu berumur pakai lama bila mampu menahan bermacam-macam faktor perusak kayu, seperti suhu dan kelembaban udara, panas matahari, udara, air, pukulan, gesekan, tarikan, tekanan, pengaruh garam, asam, dan basa, jamur penyerang kayu, serangga perusak kayu, lubang serangga penggerek atau cacing laut. (J.F.Dumanauw, 1990 : 7)
   Adapun tujuan pengawetan kayu antara lain untuk memperpanjang usia keawetan kayu, dan memanfaatkan pemakaian jenis-jenis kayu yang berkelas pengawetan rendah menjadi pengawetan yang sedang. (Kasmudjo, 2010 : 55)
   Pengawetan kayu dibagi menjadi dua, yaitu pengawetan remanen atau sementara dan pengawetan permanen. Pengawetan sementara bertujuan menghindari serangan perusak kayu pada kayu basah dengan menggunakan bahan pengawet antara lain NaPCP (Natrium Penthaclor Phenol), Gammexane, dan Borax. Pengawetan permanen bertujuan menahan semua faktor perusak kayu dalam waktu selama mungkin dengan menggunakan bahan pengawet seperti Creosot, Carbolineun, dan Napthaline. (J.F.Dumanauw, 1990 : 7)
     Limbah potongan kayu adalah sisa-sisa potongan kayu, seperti sisa potongan kayu furniture yang sudah tidak terpakai lagi dan memiliki ukuran serta bentuk yang bervariasi.
      Limbah potongan kayu ini dapat ditemukan di pabrik-pabrik pembuatan furniture. Biasanya limbah kayu ini berupa potongan dan serpihan. Limbah potongan ini berupa papan-papan  atau potongan-potongan kecil yang masih dapat dilihat bentuknya. Sedangkan serpihan kayu merupakan sisa-sisa proses pengolahan kayu baik pemotongan maupun penghalusan yang menghasilkan bubuk-bubuk kayu. Saat ini, bubuk kayu telah banyak dimanfaatkan menjadi kayu olahan seperti multipleks, blockboard, dan sebagainya, sedangkan potongan kayu masih belum banyak dimanfaatkan (Kasmudjo, 2010 : 55).
Untuk mengolah limbah potongan kayu, langkah pertama adalah membentuk menjadi papan kayu dan kemudian diaplikasikan pada furnitur dan elemen pembentuk ruang di dalam interior.
Proses pengolahan limbah potongan kayu menjadi papan kayu antara lain:
 1.    Potongan limbah kayu yang digunakan sebaiknya merupakan limbah potongan kayu yang memiliki ukuran yang hampir sama. Oleh karena itu, sebelum digunakan, sebaiknya limbah potongan kayu tersebut diklasifikasikan terlebih dahulu menjadi beberapa ukuran.
2.    Pada bagian sisi potongan kayu saling didekatkan dan diluruskan dengan potongan kayu lainnya.
3.   Bagian sisi-sisi kayu yang telah dicocokkan dan diluruskan kemudian di beri lem dan direkatkan. Terdapat dua jenis lem yang dapat digunakan, yaitu lem alteco dan lem G (waktu perekatan lebih cepat), serta lem racol atau rajawali putih (waktu perekatan cukup lama).
4.   Setelah sambungan lem kering, dan kayu telah saling merekat menjadi sebuah papan kayu, proses selanjutnya adalah pengetaman (dihaluskan dengan mesin ketam listrik). Fungsi dari proses ini selain untuk meratakan dan meluruskan, juga untuk membersihkan potongan kayu daari kotoran-kotoran ataupun sisa finishing sebelumnya. Beberapa proses ketam, antara lain:
·         Ketam perata (surface planner). Merupakan mesin ketam dua sisi yang berfungsi meratakan dua sisi papan kayu.
·         Ketam penebal (thicknesser). Merupakan mesin ketam yang berfungsi meratakan pada dua sisi dan meluruskan pada dua sisi lainnya.
·         Ukuran ditentukan sesuai keperluan, lalu papan dipotong menggunakan gergaji circle (circular saw) dengan sistem kerja gergaji mesin berada pada satu tempat dan kayu tersebut yang didorong melewati gergaji.
·         Jika tidak terdapat mesin ketam listrik, dapat menggunakan mesin ketam manual untuk meratakan dan gergaji manual untuk meluruskan. (I Made Westra, 1993 : 106)

Setelah melewati beberapa proses tersebut, limbah potongan kayu telah menjadi sebuah papan kayu yang memiliki tekstur dan warna yang berbeda-beda karena papan tersebut tak hanya terdiri dari satu jenis kayu, melainkan dari beberapa jenis kayu.         
Papan kayu yang terdiri dari potongan-potongan kayu tersebut kemudian dapat dimanfaatkan menjadi berbagai benda pakai pada interior suatu ruangan. Selain menambah fungsi dari limbah potongan kayu tersebut, papan limbah potongan kayu ini juga dapat menambah nilai estetis pada suatu benda. Hal ini karena papan memiliki ciri-ciri yang berbeda dibandingkan dengan papan kayu biasa. Ciri-ciri tersebut anatara lain adanya perbedaan beberapa warna kayu yang digunakan, arah serat kayu yang berbeda-beda, dan bentuk serta ukuran kayu yang direkatkan juga berbeda-beda.
Beberapa benda pakai yang dapat dibuat menggunakan papan limbah potongan kayu:
·         Elemen pembentuk ruang : partisi atau pembatas dinding, plafon, pelapis dinding, pelapis lantai.
·         Furniture : lemari pajang (storage), coffee table, Top table pada coffee table
·         Aksesoris interior (table lamp, standing lamp, kotak penyimpanan, dsb)
·         Elemen hias perabot (kursi, meja, lemari, dsb)

     Finishing dilakukan pada akhir proses pengerjaan papan limbah potongan kayu ini. tujuan finishing adalah untuk menghindarkan pengaruh kelembaban udara, mencegah serangan hama dan jamur perusak, serta memperindah permukaan papan limbah potongan kayu tersebut. Kualitas hasil finishing ini dapat dilihat dari warna, kilap, kehalusan, dan sifat dekorasi (menarik, indah). (Kasmudjo, 2010 : 55)
     Finishing dapat dilakukan menggunakan dua cara yaitu pengolesan dan penyemprotan. Jenis-jenis bahan yang dapat digunakan sebagai finishing tergantung pada hasil akhir yang diinginkan. Jika ingin menampakkan serat alami kayu, dapat digunakan melamic dan politur. Tetapi jika serat kayu tersebut ingin ditutupi dan menghaasilkan kayu yang halus, dapat menggunakan cat duco.
    Limbah potongan kayu yang biasanya banyak dihasilkan oleh pabrik furniture tak hanya akan menjadi limbah buangan semata jika masyarakat dapat mengetahui cara pemanfaatannya agar menjadi benda yang memiliki fungsi kembali. Salah satu cara pemanfaatannya adalah dengan mengolah kembali limbah potongan kayu tersebut menjadi papan kayu yang kemudian dapat digunakan menjadi pelengkap berbagai macam elemen interior. Kayu yang biasanya banyak digunakan pada furniture seperti kayu jati, sonokeling, dan mahoni dapat dipadu padankan dan menciptakan nilai estetis.
   Limbah potongan kayu tersebut diproses kembali menjadi papan kayu dengan proses perekatan dan perataan atau pengetaman. Setelah melalui proses tersebut, limbah potongan kayu akan menjadi sebuah papan dari limbah potongan kayu yang kemudian dapat dimanfaatkan dalam interior menjadi benda pakai seperti partisi, top table, pelapis dinding, dan sebagainya.
    Selain mengurangi pencemaran dari limbah, hal ini juga dapat berfungsi untuk menaikkan nilai pakai dan nilai ekonomi suatu benda, sehingga jika cara pengolahan limbah potongan kayu ini dapat diberdayakan di masyarakat, dapat juga menaikkan taraf hidup masyarakat dengan menciptakan lahan pekerjaan baru dari pengolahan limbah pabrik ini.

DAFTAR PUSTAKA
-Dumanauw, J.F. 1990. Pendidikan Industri Kayu Atas-Semarang Mengenal Kayu.Yogyakarta,Kanisius.
-Kasmudjo. 2010. Teknik Jitu Memilih Kayu untuk Aneka Penggunaan. Yogyakarta : Cakrawala Media .
-Kristianto, M Gani. 1993. Pendidikan Industri Kayu Atas Teknik Mendesain Perabot yang Benar. Yogyakarta : Kanisius.
-Westra, I Made. 1993. Pengetahuan Bahan dan Alat Industri Kerajinan Kayu. Jakarta : Pusat Perbukuan, Depdikbud.
-http://ecointerior-isi.blogspot.com